Murtini, Anjing Husky dengan Anaplasmosis: Studi Kasus dan Kaitan dengan SDGs
Seekor anjing jenis Siberian Husky bernama Murtini, betina berusia 2 tahun 8 bulan, datang dengan keluhan sering muntah dan mengalami kelumpuhan pada kaki belakang. Riwayat pemeliharaan menunjukkan bahwa Murtini dirawat secara semi-outdoor di dalam kandang yang diletakkan di kebun dan pernah ditemukan kutu pada tubuhnya. Untuk menegakkan diagnosis, dilakukan berbagai pemeriksaan seperti ulas darah, cek darah lengkap, analisis biokimiawi darah, serta radiologi. Dari hasil pemeriksaan, Murtini didiagnosis menderita Anaplasmosis.
Apa Itu Anaplasmosis?
Anaplasmosis adalah salah satu penyakit tick-borne disease yang disebabkan oleh bakteri obligat intraseluler gram-negatif Anaplasma sp. Penyakit ini ditularkan melalui gigitan caplak dari famili Ixodidae. Infeksi Anaplasma phagocytophilum merupakan bentuk anaplasmosis yang lebih umum, sering menyebabkan kepincangan dan kerap dikelirukan dengan penyakit Lyme. Sementara itu, Anaplasma platys menyebabkan bentuk anaplasmosis yang lebih ringan. Penyakit ini telah dilaporkan di berbagai belahan dunia pada berbagai jenis hewan, bahkan manusia.
Tanda Klinis Anaplasmosis
Tanda klinis yang paling sering dilaporkan adalah kelesuan dan demam. Selain itu, dapat ditemukan anoreksia (penurunan nafsu makan), gangguan muskuloskeletal seperti kepincangan, nyeri sendi, serta keengganan untuk bergerak. Gejala ini dapat berlangsung selama satu hingga tujuh hari, dengan beberapa kasus menunjukkan gejala ringan atau bahkan tidak bergejala sama sekali. Tanda klinis lainnya meliputi batuk ringan, muntah, diare, pembesaran limpa (splenomegali), pembesaran kelenjar getah bening (limfadenopati), serta tanda-tanda hemoragik. Pada pemeriksaan laboratorium, trombositopenia ditemukan pada sebagian besar kasus, sementara anemia, limfopenia, leukopenia, dan peningkatan kadar enzim hati dapat ditemukan pada beberapa anjing.
Pengobatan Anaplasmosis
Anaplasmosis biasanya diobati dengan antibiotik Doxycycline selama dua hingga empat minggu, tergantung pada tingkat keparahan infeksi. Sebagian besar anjing mengalami perbaikan gejala dalam 24-48 jam setelah terapi dimulai, dan prognosis pemulihan klinis sangat baik. Selain itu, dokter hewan dapat memberikan perawatan tambahan seperti obat pereda nyeri, vitamin B kompleks, atau terapi cairan sesuai kebutuhan. Dalam beberapa kasus, terapi suportif seperti fisioterapi dan laserpunktur dapat membantu pemulihan anjing dengan gejala kepincangan.
Pencegahan Anaplasmosis
Pencegahan utama adalah membatasi paparan kutu pada anjing. Kutu umumnya ditemukan di daerah berumput, berhutan, atau berpasir. Langkah-langkah pencegahan yang dapat dilakukan antara lain:
- Menjaga anjing tetap berada di jalur yang aman saat berjalan di daerah berhutan atau berumput tinggi.
- Menggunakan obat antiparasit yang dapat membunuh kutu dalam waktu kurang dari 24 jam untuk mencegah penularan penyakit.
- Rutin memeriksa tubuh anjing setelah aktivitas di luar ruangan.
Anaplasmosis dianggap sebagai penyakit zoonosis yang berpotensi menginfeksi manusia. Namun, penularan langsung dari hewan ke manusia atau antarhewan sangat kecil kemungkinannya dan belum terdokumentasikan. Jika seekor anjing didiagnosis menderita anaplasmosis, tindakan pengendalian kutu yang ketat harus dilakukan untuk mencegah penyebaran penyakit ini di lingkungan sekitar.
Penyakit zoonosis seperti Anaplasmosis memiliki relevansi dengan beberapa target SDGs, terutama:
- SDG 3: Good Health and Well-being
- Penyakit zoonosis dapat mempengaruhi kesehatan manusia dan hewan, sehingga pencegahan dan pengobatan yang efektif berkontribusi pada kesejahteraan global.
- Penggunaan antibiotik yang rasional dan edukasi pemilik hewan dalam pencegahan penyakit dapat mengurangi angka kejadian anaplasmosis.
- SDG 15: Life on Land
- Penyakit yang ditularkan melalui vektor seperti kutu menunjukkan pentingnya menjaga keseimbangan ekosistem dan keanekaragaman hayati.
- Pencegahan dan pengendalian penyakit hewan dapat mendukung kesejahteraan satwa liar dan domestik.
- SDG 17: Partnerships for the Goals
- Kolaborasi antara dokter hewan, peneliti, dan masyarakat dalam memantau serta mengendalikan penyebaran penyakit zoonosis sangat penting untuk mencapai tujuan kesehatan global.
Dengan pemahaman yang lebih baik mengenai anaplasmosis dan pencegahannya, kita dapat meningkatkan kesehatan hewan serta mengurangi risiko bagi manusia, selaras dengan prinsip One Health yang mendukung kesehatan manusia, hewan, dan lingkungan secara bersamaan.
Penulis: Tsaniya Atikahani