logo fkh unair
logo fkh unair

Menangani Kasus Abses Anjing

Seekor anjing jantan datang ke Rumah Sakit Hewan Pendidikan Universitas Airlangga pada tanggal 10 Januari 2025 dengan keluhan adanya abses pada ekstremitas bagian kaudal. Kondisi ini disebabkan oleh kejadian sebelumnya ketika anjing tersebut mengalami hepatitis dan tidak bisa bangun, sehingga terbentuk ulkus dekubitus. Abses adalah penumpukan nanah yang terdapat di dalam rongga pada suatu bagian tubuh. Penyebabnya sangat beragam, termasuk luka trauma, benda asing, serta infeksi bakteri yang masuk melalui luka terbuka.

Penanganan pertama yang diberikan adalah operasi untuk membersihkan abses, diikuti dengan penjahitan luka. Namun, proses penyembuhan berlangsung lebih lama dari perkiraan karena anjing mengalami penurunan nafsu makan, sehingga pemberian obat menjadi sulit. Selain itu, abses yang dijahit tertutup mempersulit pengeluaran pus, yang memperlambat proses penyembuhan. Setelah seminggu, luka jahitan masih belum mengering dan terdapat rembesan.

Untuk mempercepat penyembuhan, dilakukan perubahan strategi perawatan, termasuk membuka kembali jahitan untuk memungkinkan pembersihan pus lebih optimal, pemberian terapi suportif untuk meningkatkan nafsu makan, serta perawatan luka secara berkala menggunakan antiseptik dan antibiotik yang diresepkan oleh dokter hewan. Pemantauan rutin dilakukan untuk memastikan luka tetap bersih dan tidak mengalami infeksi sekunder.

Setelah menjalani perawatan yang intensif, anjing tersebut akhirnya diperbolehkan pulang pada tanggal 14 Februari 2025 dalam kondisi yang jauh lebih baik. Nafsu makan yang awalnya rendah meningkat secara signifikan, dan luka jahitan telah mengering serta menutup sempurna tanpa adanya rembesan lagi.

Kasus ini berkaitan dengan beberapa tujuan dalam Sustainable Development Goals (SDGs), di antaranya:

  1. SDG 3: Good Health and Well-being (Kesehatan yang Baik dan Kesejahteraan)
    • Perawatan intensif yang diberikan mencerminkan pentingnya layanan kesehatan hewan dalam meningkatkan kesejahteraan hewan peliharaan, yang juga berkontribusi pada kesehatan masyarakat melalui konsep One Health.
  2. SDG 12: Responsible Consumption and Production (Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab)
    • Penggunaan obat-obatan dan bahan antiseptik yang tepat serta prosedur perawatan yang berkelanjutan mencerminkan praktik medis yang bertanggung jawab untuk menghindari resistensi antibiotik dan limbah medis yang tidak terkendali.
  3. SDG 15: Life on Land (Kehidupan di Darat)
    • Perlindungan kesehatan hewan, termasuk perawatan terhadap abses dan infeksi, merupakan bagian dari upaya menjaga kesejahteraan satwa domestik serta keseimbangan ekosistem yang lebih luas.

Kasus ini menunjukkan betapa pentingnya layanan kesehatan hewan yang baik dalam menjaga kesehatan dan kesejahteraan hewan peliharaan, serta dampaknya terhadap kesehatan lingkungan dan masyarakat secara keseluruhan.

 

Penulis: Mira Audrea

Scroll to Top