logo fkh unair
logo fkh unair

Studi Kasus Komplikasi Malnutrisi pada Pedet

Kabupaten Kediri, 8 Februari 2025 – Mahasiswa PPDH 43 Kelompok 4D menjalani Praktek Kerja Lapangan (PKL) mengikuti kegiatan pelayanan kesehatan hewan bersama dokter hewan dan petugas Puskeswan Purwoasri, Dinas Ketahanan Pangan dan Peternakan (DKPP) Kabupaten Kediri. Kasus menarik terkait komplikasi malnutrisi ditemukan pada pedet berusia 10 hari. Kasus ini menyoroti dampak serius dari defisiensi nutrisi terhadap kondisi fisiologis dan kesehatan sistemik pada pedet neonatus. Pedet yang diperiksa tidak menunjukkan nafsu menyusu sama sekali sejak lahir. Pemeriksaan klinis mengungkapkan suhu tubuh tinggi (40,6°C), dehidrasi dengan capillary refill time (CRT) yang lambat (>2 detik), serta mukosa hidung dan mulut yang tampak pucat. Selain itu, ditemukan adanya pneumonia dengan gejala khas seperti suara crackles akibat pergerakan udara melalui cairan di paru-paru serta dyspnea, meskipun tanpa nasal discharge, dan tampak adanya glaukoma, yang semakin mengindikasikan keterlibatan sistemik dari kondisi malnutrisi.

Malnutrisi pada pedet merupakan faktor predisposisi utama terhadap berbagai gangguan fisiologis dan infeksi sekunder. Defisiensi energi dan protein mengganggu perkembangan sistem imun, metabolisme, serta fungsi organ vital. Dalam kasus ini, malnutrisi diyakini berperan dalam dua komplikasi utama, yaitu pneumonia dan glaukoma. Sistem imun pedet yang baru lahir sangat bergantung pada transfer pasif imunoglobulin melalui kolostrum. Ketika pedet tidak menyusu, ia kehilangan sumber utama imunoglobulin, terutama IgG, yang berperan penting dalam pertahanan terhadap patogen respiratori.

Keterkaitan antara malnutrisi dan glaukoma kemungkinan besar terjadi akibat kombinasi hipoproteinemia, hipoksia, dan gangguan metabolisme elektrolit. Hipoproteinemia yang diakibatkan oleh defisiensi nutrisi dapat mempengaruhi tekanan osmotik dalam jaringan, termasuk dalam sistem sirkulasi intraokular. Selain itu, hipoksia akibat anemia dan gangguan vaskularisasi berperan pada peningkatan tekanan intraokular yang menyebabkan glaukoma. Dalam kasus ini, kondisi mukosa yang pucat mengindikasikan adanya anemia, yang semakin memperkuat dugaan keterlibatan sistemik dalam patogenesis glaukoma.

Kasus ini menyoroti bagaimana malnutrisi pada pedet tidak hanya menyebabkan pertumbuhan yang terhambat tetapi juga meningkatkan risiko komplikasi sistemik yang

serius seperti pneumonia dan glaukoma. Oleh karena itu, deteksi dini dan intervensi cepat menjadi aspek krusial dalam manajemen kesehatan pedet neonatus. Peran penting dan dedikasi dari tim Puskeswan Purwoasri, Dinas Ketahanan Pangan dan Peternakan (DKPP) Kabupaten Kediri menjadi kunci utama dalam menjaga kesehatan hewan ternak serta meningkatkan kesejahteraan para peternak.

Penulis: Kelompok 4D PPDH 43

Scroll to Top