logo fkh unair
logo fkh unair

Pagi Jum’at, 10 Januari 2025, menjadi saksi bisu hadirnya secercah harapan dari sosok tak dikenal bagi seekor kucing terlantar yang ditemukan dalam kondisi lemah di depan pintu Rumah Sakit Hewan Pendidikan Universitas Airlangga. Dibungkus dalam sebuah totebag lusuh, kucing berwarna oranye-putih itu tampak tak berdaya. Bersama tubuhnya yang kurus dan bulu kusam, turut diselipkan secarik kertas berisi permohonan maaf dan harapan akan adanya pertolongan dari tangan-tangan baik, disertai uang sebesar Rp150.000. Pesan itu tidak sekadar permohonan, tetapi juga representasi dari kepedulian dalam keterbatasan.

Kisah ini mencerminkan pentingnya SDGs poin 3 (Kesehatan dan Kesejahteraan) serta poin 15 (Menjaga Ekosistem Darat), di mana hewan sebagai bagian dari makhluk hidup di bumi juga berhak mendapatkan perhatian dan penanganan yang layak. Dalam konteks ini, peran lembaga pendidikan, tenaga medis, serta mahasiswa menjadi sangat penting dalam menjunjung nilai kemanusiaan lintas spesies.

Setelah ditemukan, kucing tersebut segera dievakuasi ke ruang perawatan dan diperiksa secara menyeluruh. Dengan berat badan hanya 3,2 kg dan diperkirakan berusia 1,5 tahun, hewan tersebut menunjukkan berbagai tanda klinis yang menunjukkan kondisi kesehatan yang buruk, seperti dehidrasi parah, konjungtivitis, halitosis, dan sisa diare. Dugaan kuat mengarah pada infeksi virus, dan ia segera ditempatkan dalam alat penghangat khusus untuk menjaga kestabilan suhu tubuhnya yang terus menurun.

Sepanjang hari itu, tim dokter hewan, paramedis, dan mahasiswa koas berjuang memberikan perawatan terbaik. Cairan infus, terapi suportif, dan nutrisi khusus diberikan untuk memperkuat daya tahan tubuhnya. Di balik alat dan prosedur medis, sentuhan penuh kasih dan harapan dari para perawat menjadi kekuatan yang tak kasatmata. Mereka berbicara lembut, mengusap tubuh lemah kucing tersebut, dan menjaganya dengan penuh kesabaran. Semangat kolektif itu mencerminkan solidaritas dan nilai pendidikan empatik yang terintegrasi dalam praktik kesehatan hewan.

Namun, tak semua perjuangan berujung pada kemenangan. Keesokan harinya, pada 11 Januari 2025, hewan malang itu menghembuskan napas terakhir. Kepergiannya menyisakan keheningan dan haru di ruang perawatan. Meski begitu, perjuangan yang terjadi dalam waktu singkat itu tidaklah sia-sia. Ia pergi dengan tenang, dikelilingi oleh orang-orang yang memberinya perhatian dan kasih sayang.

Kisah ini menjadi pengingat kuat bahwa masih banyak hewan di luar sana yang terlantar tanpa perlindungan. Satu tindakan kecil, seperti meninggalkan hewan di tempat yang aman disertai niat baik, dapat memantik rantai kepedulian yang lebih besar. Pendidikan kedokteran hewan bukan hanya melatih keterampilan klinis, tetapi juga menumbuhkan empati dan nilai-nilai kemanusiaan terhadap semua makhluk hidup.

Melalui kisah ini, kita diajak untuk memperluas makna kesehatan dan kesejahteraan—bukan hanya untuk manusia, tetapi juga bagi hewan yang menjadi bagian penting dari ekosistem dan kehidupan kita bersama (Elma Salsabila Putri).

Scroll to Top