Pada hari Rabu, 20 Mei 2026 pukul 08.00 WIB telah dilaksanakan kegiatan kuliah dan keterampilan medik veteriner (tramed) yang disampaikan oleh Wiwik Misaco Yuniarti di Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Airlangga. Sebelum pelaksanaan praktik keterampilan medis mengenai teknik injeksi subkutan (SC), intramuskular (IM), dan intravena (IV), mahasiswa terlebih dahulu mendapatkan materi mengenai berbagai penyakit yang umum menyerang hewan kecil beserta prinsip penanganannya. Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman mahasiswa mengenai teknik pemberian terapi yang tepat sebagai bagian penting dalam pelayanan medis veteriner.
Pada sesi pertama, dijelaskan mengenai teknik injeksi intramuskular (IM), yaitu metode pemberian obat langsung ke dalam jaringan otot. Lokasi injeksi yang umum digunakan meliputi otot quadriceps, otot epaksial, dan otot trisep. Dalam pelaksanaannya, volume obat yang diberikan harus disesuaikan dengan kapasitas jaringan agar tidak menimbulkan trauma pada otot. Mahasiswa juga diajarkan pentingnya memastikan tidak terdapat gelembung udara di dalam spuit sebelum injeksi dilakukan. Jarum dimasukkan tegak lurus dengan sudut sekitar 90 derajat terhadap jaringan otot, kemudian dilakukan aspirasi ringan untuk memastikan jarum tidak berada di dalam pembuluh darah. Setelah obat diinjeksi secara perlahan, area bekas suntikan dipijat lembut menggunakan kapas alkohol untuk membantu distribusi obat dan mengurangi rasa nyeri.
Pembahasan berikutnya mengenai teknik injeksi subkutan (SC), yaitu metode pemberian obat atau cairan ke jaringan di bawah kulit menggunakan sudut sekitar 45 derajat. Area yang paling umum digunakan adalah bagian tengkuk atau punggung di antara tulang belikat karena memiliki jaringan kulit yang longgar. Mahasiswa diajarkan teknik membentuk lipatan kulit seperti tenda sebelum penyuntikan dilakukan. Aspirasi tetap dilakukan untuk memastikan jarum tidak mengenai pembuluh darah. Setelah obat masuk seluruhnya, area suntikan dipijat secara perlahan untuk membantu penyebaran obat di bawah kulit.
Teknik terakhir yang dipelajari adalah injeksi intravena (IV), yaitu pemberian obat langsung ke dalam pembuluh darah sehingga efek terapi dapat bekerja lebih cepat. Lokasi yang umum digunakan pada hewan kecil adalah vena cephalica pada kaki depan dan vena saphena pada kaki belakang. Sebelum tindakan dilakukan, area injeksi dicukur dan dibersihkan menggunakan antiseptik untuk menjaga sterilitas. Posisi jarum disesuaikan sejajar dengan arah vena menggunakan sudut sekitar 15–30 derajat. Mahasiswa juga dilatih untuk mengenali tanda bahwa jarum telah berada di dalam pembuluh darah melalui aspirasi darah ke dalam spuit sebelum obat diberikan secara perlahan. Setelah injeksi selesai, area bekas suntikan ditekan lembut selama beberapa saat untuk mencegah perdarahan atau memar.
Melalui kegiatan praktik ini, sebanyak 23 mahasiswa PPDH Gelombang XLIV Tandem 2 berhasil melakukan teknik injeksi IM, SC, dan IV secara mandiri. Capaian ini menunjukkan meningkatnya keterampilan mahasiswa dalam melakukan tindakan medis dasar yang penting dalam penanganan pasien hewan secara langsung, khususnya pada pemberian terapi obat maupun cairan untuk membantu stabilisasi kondisi pasien.
Kegiatan pembelajaran ini turut mendukung Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 3 tentang kehidupan sehat dan kesejahteraan melalui peningkatan kompetensi calon dokter hewan dalam memberikan pelayanan kesehatan hewan yang optimal. Selain itu, kegiatan ini mendukung SDG 4 tentang pendidikan berkualitas melalui implementasi pembelajaran praktik berbasis kompetensi yang aplikatif dan relevan dengan kebutuhan klinis di lapangan. Dengan adanya kegiatan keterampilan medis ini, mahasiswa PPDH FKH UNAIR diharapkan semakin siap menghadapi tantangan klinis serta mampu memberikan pelayanan medis veteriner yang profesional, terampil, dan berorientasi pada kesejahteraan hewan.
Penulis: Divisi Klinik, Valentina Zunia Tareskopa, S.K.H., PPDH Gelombang 44 Tandem 2