Seekor anjing betina berusia 2 tahun 8 bulan dari jenis Arctic breed datang ke Rumah Sakit Hewan Pendidikan (RSHP) dengan gejala muntah berulang dan kelumpuhan kaki belakang. Anjing ini dipelihara secara semi-outdoor dengan riwayat infestasi kutu. Pemeriksaan diagnostik meliputi ulas darah, hematologi, biokimia darah, dan radiografi mengarah pada diagnosis Anaplasmosis – penyakit zoonosis yang ditularkan melalui vektor kutu. Kasus ini menegaskan pentingnya manajemen penyakit berbasis One Health, sekaligus relevan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), terutama SDG 3 (Kesehatan dan Kesejahteraan) dan SDG 15 (Ekosistem Darat).
Anaplasmosis disebabkan oleh bakteri Anaplasma sp. yang ditularkan melalui gigitan kutu famili Ixodidae. Dua spesies utama patogen ini adalah:
-
Anaplasma phagocytophilum: Menyebabkan gejala sistemik seperti demam dan kepincangan (sering tumpang tindih dengan gejala Lyme disease).
-
Anaplasma platys: Bentuk lebih ringan dengan trombositopenia sebagai tanda utama.
Penyakit ini dilaporkan secara global pada hewan dan manusia, menjadikannya ancaman lintas spesies (zoonosis).
Gejala khas pada anjing meliputi:
-
Sistemik: Demam, kelesuan, anoreksia.
-
Muskuloskeletal: Kepincangan, nyeri sendi.
-
Gastrointestinal: Muntah, diare.
-
Hematologi: Trombositopenia (penurunan trombosit), anemia, atau peningkatan enzim hati.
Diagnosis diteguhkan melalui pemeriksaan mikroskopis darah, uji serologi, atau PCR. Pada kasus ini, kombinasi gejala klinis dan temuan laboratorium memperkuat diagnosis anaplasmosis.
-
Terapi Primer: Antibiotik golongan tetrasiklin selama 2–4 minggu. Respons biasanya cepat (perbaikan gejala dalam 24–48 jam).
-
Terapi Suportif:
-
Analgesik untuk nyeri sendi.
-
Laserpuncture: Stimulasi titik akupunktur dengan laser untuk mengurangi kepincangan.
-
Cairan intravena dan suplemen vitamin B kompleks untuk kasus berat.
-
Pencegahan anaplasmosis berfokus pada:
-
Manajemen Lingkungan:
-
Hindari area berumput/berhutan rawan kutu.
-
Pemeliharaan kebersihan kandang.
-
-
Proteksi Hewan:
-
Penggunaan antiparasit topikal/oral yang membunuh kutu dalam <24 jam (kutu perlu waktu 24 jam untuk menularkan bakteri).
-
Pemeriksaan rutin bulu setelah aktivitas outdoor.
-
Dampak pada SDGs
-
SDG 3.3: Pengendalian penyakit zoonosis melalui deteksi dini dan edukasi pemilik hewan.
-
SDG 15.5: Pengurangan risiko keanekaragaman hayati akibat penyebaran patogen vektor-borne.
-
SDG 17: Kolaborasi multidisiplin (dokter hewan, dokter manusia, ahli lingkungan) dalam kerangka One Health.
Meski tidak menular langsung dari anjing ke manusia, keberadaan kutu terinfeksi di lingkungan meningkatkan risiko zoonosis. Pemilik hewan perlu:
-
Menggunakan alat pelindung diri (sarung tangan) saat merawat anjing sakit.
-
Segera berkonsultasi ke dokter jika mengalami gejala demam setelah terpapar kutu.
Kasus anaplasmosis ini menyoroti kompleksitas penyakit tick-borne yang memerlukan pendekatan terintegrasi: pengobatan hewan, kontrol vektor, dan kesadaran masyarakat. Implementasi SDGs dalam praktik kedokteran hewan tidak hanya menyelamatkan nyawa hewan, tetapi juga melindungi ekosistem dan kesehatan global.