Pelatihan Pembekuan Embrio (Vitrifikasi) dan Intracytoplasmic Sperm Injection (ICSI)

Salah satu teknologi reproduksi berbantu yang kini populer dalam mengatasi masalah infertilitas adalah In-vitro Fertilization (IVF). IVF merupakan metode yang sangat menguntungkan karena selain dapat mengatasi masalah infertilitas, metode ini dapat menghasilkan embrio yang berkualitas tinggi dan dalam jumlah yang banyak. Sebuah terobosan teknologi alternatif untuk menghasilkan embrio dapat dilakukan secara in vitro dengan menggunakan metode Intra Cytoplasmic Sperm Injection (ICSI). Metode ICSI adalah metode dengan memasukkan sperma langsung ke dalam ooplasma oosit metafase II menggunakan jarum injektor mikroskopis. Metode ini banyak digunakan pada model manusia dan hewan untuk meningkatkan reproduktifitas dan produktivitas ternak. Keunggulan embrio IVF dan ICSI adalah dapat dibekukan dengan metode kriopreservasi. Selama proses pembekuan, semua metabolisme sel berhenti dan akan kembali normal ketika embrio dicairkan kembali.

Untuk memajukan pengetahuan dan ketrampilan dosen dalam teknologi reproduksi, Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Airlangga mengirimkan 12 (dua belas) dosen untuk mengikuti Pelatihan Pembekuan Embrio (Vitrifikasi) dan Intracytoplasmic Sperm Injection (ICSI) di Sekolah Kedokteran Hewan dan Biomedis Institut Pertanian Bogor (IPB) University. Acara yang diadakan pada tanggal 30 Mei 2023 ini merupakan kerja sama dengan Departemen Anatomi Fisiologi Farmakologi Sekolah Kedokteran Hewan dan Biomedis IPB University.

Dalam kegiatan ini, peserta tidak hanya mendapatkan teori-teori mengenai pembekuan embrio (vitrifikasi) dan pencairan (thawing) embrio serta Intracytoplasmic Sperm Injection (ICSI) saja, namun juga mereka diajak untuk mengikuti praktek pembekuan embrio (vitrifikasi) dan pencairan (thawing) embrio serta Intracytoplasmic Sperm Injection (ICSI) yang didampingi oleh Prof Arief Boediono yang sekaligus Direktur Scientific Morula IVF Indonesia.

Lebih lanjut Prof Arief menjelaskan pengalaman teknis yang ditemukan pada kondisi lapang, “Kita jangan menempatkan diri seperti laboran, namun sebagai seorang scientist yang mampu mengatasi setiap hambatan dalam setiap proses”. Oleh sebab itu pemahaman dasar embriologi sangat diperlukan guna mendapatkan hasil yang optimal tegasnya (Epy M Luqman/FKH Unair).

Leave a Reply