Program Pengembangan Produk Unggulan Daerah (PPPUD): Breeding Sapi Peranakan Simental Menggunakan Semen Seksing Di Tengah Wabah Penyakit Mulut Dan Kuku (PMK) Di Kecamatan Kedungpring Lamongan

Wabah penyakit PMK yang terjadi mulai 09 bulan Mei 2022 di Wilayah Jawa Timur (Lamongan, Mojokrto dan Sidoarjo), dan selanjutnya ditetapkan oleh Pemerintah tanggal 28 juni 2022 sebagai kejadian luar biasa, menyerang ke 19 propinsi dan 221 kabupaten/kota di Indonesia menyerang ternak ruminansia, menyebabkan usaha pertenakan sapi, kambing dan domba lumpuh total, demikian pula kelompok ternak sapi potong yang tergabung dalam kelompok Ternak Sapi Potong “Gunung Rejo makmur” di kecamatan Kedungpring, kabupaten Lamongan ikut merasakan dampak kejadian ini. Sebagai bentuk penerapan tri dharma perguruan tinggi dan respon cepat menanggpi kejadian ini maka dilakukan Program Pengembangan Produk Unggulan Daerah (PPPUD) bartajuk Breeding Sapi Peranakan Simental Menggunakan Semen Seksing Di Tengah Wabah Penyakit Mulut Dan Kuku (PMK) Di Kecamatan Kedungpring Lamongan yang dilakukan pada hari Jumat (29/07/2022), Tim dalam kegiatan ini yaitu Prof.Dr. Dewa Ketut Meles, drh.,MS, Prof.Dr. Imam Mustofa, drh., M.Kes, dan Prof. Mas’ud Hariadi,drh.,Ph.D.

Populasi sapi potong di kecamatan Kedungpring sekitar 4.800 ekor sebelum wabah penyakit, sampai saat ini (29 Juli 2022) sangat berkurang jumlah nya, disamping karena pemotongan yang telah dilakukan saat hari raya Idul adha 1443 H, juga para perternak belum berani memasukkan ternak untuk di gemukkan akibat dari penularan PKM. Daerah Kabupaten Lamongan, khususnya Kecamatan Kedungpring termasuk Zona merah untuk PMK, sehingga tidak diperbolehkan ternak sapi keluar masuk dari Zona merah tersebut, disamping sampai saat ini untuk Zona merah belum dilakukan vaksinasi terhadap ternak-ternak sehat, hal ini menyebabkan jumlah populasi ternak menurun sangat drastis. Dari kelompok ternak Gunung Rejo Makmur dari sapi potong yang digemukkan berjumlah 256 ekor sapi potong, ada sekitar 55 ekor dipotong secara paksa dan ada 6 ekor yang mati akibat PMK. Demikian pula disekitar kandang kelompok ternak potong terdapat 97 ekor sapi potong terserang PMK, dan 88 ekor yang sembuh dan 8 ekor di rawat dengan pengobatan serta ada 1 ekor yang mati. PMK walaupun mortalitas rendah, tetapi mobiditasnya cukup tinggi, sampai saat ini tindakan yang dilakukan untuk menangani PMK ini adalah Biosecuritry yang ketat dengan penyemprotan kendang dengan desinfektan dari kelompok ammonium kuarterner, melarang orang keluar masuk kendang, kebersihan kendang, disamping pengobatan terhadap sapi-sapi yang tertular PMK dengan antibiotika, dan antiseptik iodin pada luka-luka di bibir dan sekitar kuku. Terhadap sapi yang mati karena PMK di kubur dalam-dalam dan di semprot desinfektan sebelum ditutup lubang kuburan dengan tanah. Dalam program ini dilakukan kegiatan Inseminasi pada sapi menggunakan semen seksing tetap dilaksanakan berdasarkan permintaan para peternak, demikian pula pemeriksaan kebuntingan pada sapi2 bunting dilaksanakan sesuai permintaan para peternak pula.

Author: Dewa Ketut Meles

Editor: Daeng Fajar

Hits 32

Terpopuler






Berita Terbaru