Edukasi Publik: Diskusi Interaktif mengenai Penyakit Mulut dan Kuku yang Menular pada Ternak

Edukasi publik dengan topik “Penanggulangan Penyakit Mulut dan Kuku” untuk mengedukasi masyarakat, khususnya para peternak, diadakan oleh SAGAVET Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Airlangga. Edukasi publik ini telah dilaksanakan pada tanggal 11 Mei 2022 secara online dengan metode dialog interaktif. Edukasi publik mengenai penyakit mulut dan kuku dinarasumberi oleh Prof. Dr. Fedik Abdul Rantam, drh., Prof. Dr. Mustofa Helmi Effendi, drh., DTAPH, dan Dr. Iswahyudi Parso drh., M. P selaku kepala bidang kesehatan hewan di dinas peternakan Provinsi Jawa Timur.

Penyakit mulut dan kuku atau sering disingkat dengan PMK merupakan penyakit yang menyebabkan luka pada mulut dan kuku pada hewan berkuku belah. PMK sangat menular pada hewan berkuku belah. Penyakit ini tiba-tiba muncul kembali pada tahun 2022 terutama di empat kabupaten di Jawa Timur yaitu, Kabupaten Sidoarjo, Lamongan, Gresik, dan Mojokerto. Hewan yang dapat terserang penyakit ini adalah ruminansia, babi, unta, dan beberapa hewan liar. Bahkan dalam percobaan, virus penyebab penyakit ini dapat menginfeksi kelinci, marmut, tikus, dan hamster. Pengembangan vaksin perlu dilakukan karena dapat menjadi salah satu tindakan preventif yang luar biasa untuk menanggulangi PMK.

Virus dari PMK dapat menyebar melalui wol, rambut, rumput, hal-hal yang terkontaminasi langsung oleh hewan yang terinfeksi, bahkan udara. Prof. Dr. Fedik menjelaskan bahwa ciri fisik ternak yang mengalami penyakit mulut dan kuku ditandai dengan demam yang tinggi, hipersalivasi, serta adanya pembengkakan maupun lepuh di area mulut dan kaki. Untuk menjaga ternak agar terhindar dari penyakit mulut dan kuku adalah dengan melakukan desinfeksi kandang secara berkala, vaksinasi, serta melakukan karantina pada ternak yang terserang virus. Hewan ternak yang terserang PMK akan membaik setelah 14-21 hari. Namun, ternak yang pernah terserang masih bisa menularkan virus melalui pernafasannya. Menurut Prof. Dr. Mustofa Helmi, sangat kecil kemungkinan penyakit  mulut dan kuku menular pada manusia.

Edukasi publik yang dihadiri 300 dokter hewan, peternak, maupun masyarakat berlangsung sangat baik dan menghadirkan dialog yang aktif. Setelah pemaparan materi dilakukan, diadakan kegiatan tanya jawab dan diskusi seputar penyakit mulut dan kuku. Dari pemaparan serta diskusi yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa dalam menghindarkan ternak dari penyakit mulut dan kuku harus dilakukan desinfeksi kandang secara teratur agar lingkungan kandang dapat terbebas dari virus yang dapat menyerang ternak serta dapat menghasilkan ternak yang sehat.

Hits 15

Terpopuler