Isi Waktu Libur Semester, Mahasiswa S2 FKH Unair Kolaborasi dengan UPTD Puskeswan Dinas Pertanian Cirebon Lakukan Surveilans Penyakit Brucellosis

Kami mahasiswa S2 Program Studi Biologi Reproduksi Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Airlangga Surabaya ingin berbagi pengalaman mengisi waktu libur akhir semester dengan melakukan surveilans penyakit Brucellosis yaitu penyakit reproduksi yang bersifat zoonosis (dapat ditularkan kepada manusia). Walaupun kejadian Brucellosis pada manusia di Indonesia belum banyak diteliti, namun berdasarkan hasil penelitian Sudibyo dkk (1995) menunjukkan adanya titer antibodi pada para pekerja di rumah potong hewan, peternakan sapi dan babi.

Brucellosis awalnya merupakan penyakit reproduksi pada hewan yang disebabkan oleh bakteri genus Brucella sp. Berbagai varietas hewan dapat terinfeksi species Brucella, seperti sapi (Brucella abortus), kambing (B. melitensis), domba (B. ovis), babi (B. suis), anjing (B. canis) dan rodensia (B. neotomae). Brucellosis di Indonesia banyak menginfeksi ternak sapi sehingga ditetapkan sebagai Penyakit Hewan Menular Strategis (PHMS). Kerugian ekonomi industri peternakan sapi akibat brucellosis mencapai Rp138,5 miliar tiap tahun meskipun angka mortalitas relatif kecil (Ditjennak 2000). Oleh karena itu penyakit brucellosis terutama pada sapi harus dikendalikan.

Brucellosis pada sapi menyebabkan terjadinya abortus (keguguran) yang bersifat temporer atau permanen, kematian pedet baru lahir (stillbirth), gangguan reproduksi (infertilitas dan sterilitas), penurunan produksi susu, plasentitis, orchitis, epididimitis (Corbel 1997) serta mampu mengekskresikan kuman ke dalam uterus dan susu. Beberapa provinsi di Indonesia saat ini yang belum bebas brucellosis adalah Pulau Sulawesi dan Nusa Tenggara Timur (NTT) pada sapi potong dan Pulau Jawa pada sapi perah dengan prevalensi penyakit di Pulau Jawa berkisar 23%.

Ada dua strategi pemberantasan Brucellosis berdasarkan tingkat kejadiannya yaitu apabila prevalensi reaktor lebih dari 2% dengan kategori tertular berat, maka metode pemberantasannya dengan cara vaksinasi. Sedangkan pada daerah kategori tertular rendah (prevalensi kurang dari 2%), dikendalikan dengan teknik uji dan potong bersyarat (test and slaughter).

Kami berkolaborasi dengan UPTD Puskeswan Dinas Pertanian Kabupaten Cirebon dalam melakukan pengambilan sampel darah pada 175 ekor sapi potong dan sapi perah yang ada di 23 desa di Kabupaten Cirebon, sebagai upaya deteksi dini terhadap munculnya penyakit Brucellosis, mengingat Provinsi Jawa Barat belum dinyatakan bebas penyakit Brucellosis. Selanjutnya serum dipisahkan ke dalam ependorf dan disimpan dalam suhu beku kemudian dibawa ke Balai Veteriner Subang untuk diuji. Pada tanggal 27 Juni 2023 BVet Subang secara resmi menyampaikan bahwa hasil uji terhadap 175 sampel serum darah sapi tersebut adalah negatif Brucellosis.

Demikian sharing pengalaman dari kami, semoga bermanfaat.

Wassalamualaikum Wr Wb

Pengambilan sampel darah sapi melalui vena coccygea atau vena jugularis. Serum yang terbentuk dipisahkan ke dalam ependorf kemudian dibekukan. Selanjutnya sampel serum siap dibawa ke BVet Subang untuk diuji.

 

Referensi :

Corbel MJ, 1997. Brucellosis : an overview. National Library of Medicine Ditjennak, 2000. Pedoman Surveilans dan Monitoring Brucellosis pada Sapi dan Kerbau.

Dirjen Produksi Peternkan. Hlm 1-38

Sudibyo A, 1995. Studi Epidemiologi Brucellosis dan Dampaknya terhadap Reproduksi Sapi Perah di DKI Jakarta. Jurnal Ilmu Ternak dan Veteriner 1 : 31-36

Leave a Reply