Alumni Berprestasi FKH Unair Jalin Kerjasama dengan School of Agriculture and Food Sustainability the University of Queensland

Hi semua…. Salam sejahtera…. Assalamualaikum wr wb …..

Perkenalkan saya Abdullah Hasib, dokter hewan alumni FKH Unair tahun 2018. Saat ini saya sedang berafiliasi dengan School of Agriculture and Food Sustainability the University of Queensland. Biasa disebut oleh teman-teman di sini “UQ”. Di tengah winter break ini, saya sedang mengisi liburan dengan pergi ke kampung halaman Surabaya sekaligus bersilaturahmi ke FKH Unair untuk bertemu dosen-dosen saya dulu. Senang sekali rasanya bisa bernostalgia di kampus veteriner bertemu guru-guru dan para senior yang meneruskan tongkat estafet para purna bakti di almamater kampus veteriner airlangga yang semakin hari semakin gemilang.

Di sela-sela liburan, saya menyempatkan diri untuk bertemu para pembimbing saya, salah satunya Dr. Erma Safitri, drh., MSi. Beliau merupakan pembimbing saya dan rekan-rekan tim FKH di PIMNAS 30. Salah satu ajang di lingkup karya akademik yang cukup bergengsi bagi mahasiswa S1 di Indonesia. Sekitar Pukul 10 pagi WIB pada tanggal 21 Juni 2023, saya sudah disambut di ruang kebidanan oleh Suzanita Utama, drh., MPhil., PhD. Salah satu dosen senior kami yang juga alumni Australia, negara di mana saya belajar saat ini. Selain berbicara tentang hal positif di UQ yang bisa diterapkan di Unair, kami bertiga berbincang mengenai beberapa hal lain, termasuk bagaimana saya bisa berkuliah di Gatton, kota kecil dimana kampus pertanian UQ berada.

Sebagaimana Dr. Erma Safitri, drh., MSi merupakan pembimbing di waktu PIMNAS dulu, beliau sempat menyinggung apakah memang pencapaian medali PIMNAS 30 yang pernah tertorehkan atas nama FKH dapat meningkatkan portofolio untuk mendaftar beasiswa Australia Award Scholarship di sela-sela perbincangan. Kalau dipikir-pikir mungkin iya tetapi tidak juga. Kenyataanya, lebih dari 6000 pendaftar pasti banyak yang memiliki lebih dari sekedar prestasi akademik, apalagi hanya sekedar medali. Portofolio yang saya ajukan untuk mendaftar beasiswa tersebut berbekal pengalaman dan dedikasi di bidang penelitian dan asistensi di mata kuliah selama studi di FKH. Akibat dari informasi ini, pewawancara langsung memunculkan pertanyaan awal di sesi JST interview, “Jadi kamu sudah punya  banyak publikasi yang sudah pernah di hasilkan sebagai mahasiswa S1?” Dengan yakin dan lugas pertanyaan ini terjawab, “saya hanya punya 6. Tapi saya rasa itu sudah cukup banyak untuk mahasiswa S1 di tempat saya.” Meskipun kenyataanya, publikasi yang sudah ada bukan selevel publikasi para PhD students atau peneliti dan dosen senior. Saat itu, para interviewer sedang menghadap layar laptopnya masing-masing. Terkesan sedang memastikan sesuatu. Mungkin, mereka melakukan checking di google scholar apakah benar publikasi atas nama Abdullah Hasib dengan afiliasi FKH Unair memang ada. Setelah pertanyaan ini, mayoritas pertanyaan selanjutnya mengarah tentang bagaimana pengalaman seputar academia. Mulai dari motivasi, dedikasi, pengalaman dan seterusnya sampai pada pertanyaan yang menguji tentang sejauh apa saya menyukai dunia riset. Kira-kira jawaban yang terlontar seperti ini, “saya memenangkan medali perak di ajang PIMNAS dengan kategori riset dan saya sudah aktif di penelitian semenjak tahun kedua perkuliahan hingga saat ini.”

Perasaan campur aduk diakhiri dengan rasa syukur yang mendalam. Sesi Interview berjalan sangat lancar dan respon pewawancara selalu positif, membawa senyum yang memotiviasi dan para pewawancara menatap kagum tetapi tetap profesional membuat hati semakin yakin apapun hasil akhirnya Tuhan akan memberikan yang terbaik. Apa yang dilakukan dahulu bersama rekan-rekan seperjuangan dan para dosen khususnya pembimbing penelitian seolah-olah tuntas dan terpasrahkan kepada takdir Tuhan. Setiap kali mengingat kisah ini, saya selalu menginginkan rekan-rekan seperjuangan saya merasakan manfaat yang sama di kehidupan mereka saat ini.

 

“Dari lubuk hati yang paling dalam saya ingin berterimakasih kepada semua rekan-rekan dan dosen-dosen yang telah memberikan dukungan dan mau berjuang bersama, meski rekan-rekan, yang sekarang sudah menjadi para kolega veteriner, memilih jalan hidupnya masing-masing.”

Jikalau ditanya apa yang membuat saya berada di posisi ini, jawaban saya selalu keberuntungan. Keberuntungan memiliki rekan-rekan dan dosen-dosen di Unair yang selalu positif dan mendukung untuk mewujudkan cita-cita orang lain. Sekali lagi saya mengucapkan terimakasih kepada teman-teman semua. Meski begitu, teman-teman saya selalu bilang bagaimana fokus dan dedikasi yang disertai bukti nyata di dunia pengembangan ilmu pengetahuan adalah faktor yang menjadi saya bisa diterima. “Terimakasih kepada kalian semua karena sikap kalian yang seperti ini mengingatkan saya untuk senantiasa bersyukur, sejatinya tanpa kalian semua capaian ini tidak akan ada. Tetapi kalian semua dengan rendah hati meyakinkan saya atas capaian yang sekarang. Sebenarnya masih banyak dosen-dosen yang berjasa dan teman-teman yang baik hati mendukung capaian ini. Namun, saya tidak bisa menyebutkan satu-persatu. Jika ditanya, “Apakah PIMNAS dan rekam jejak penelitian kami yang membuat diterima?” tidak senaif itu, tetapi bukti nyata dari dedikasi dan rekam jejak teman-teman dan para dosen yang begitu mendukung menjadi kekuatan terbesar bagaimana pencapaian ini bisa tercapai. Kepada kolega-kolega veteriner yang merupakan rekan seperjuangan dulu dan juga dosen yang telah tulus mendukung saya.

“Saya persembahkan capaian ini dan ilmu yang saya dapat untuk kalian semua dan nama baik Indonesia Raya.” Teruntuk teman-teman mahasiswa yang sekarang mengenyam pendidikan di FKH Unair, “sukses untuk kalian semua dan jangan menyerah.”

Salam hangat…. Viva veteriner Indonesia….

By Abdullah Hasib

Leave a Reply