Guru Besar Unair tekankan pentingnya inovasi dalam ketahanan pangan

Surabaya (ANTARA) - Guru Besar Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Airlangga Surabaya Prof Bambang menekankan pentingnya inovasi untuk meningkatkan kualitas dalam ketahanan pangan di Indonesia."Inovasi dalam ketahanan pangan cukup besar, baik dalam bentuk bahan baku, bahan setengah jadi ataupun bahan pangan siap konsumsi," kata Prof Bambang dalam acara Diskusi Pakar yang diadakan Pusat Informasi dan Humas Unair di kampus setempat, Selasa.Sayangnya, menurut Prof Bambang, inovasi ini masih terfokus pada jumlah produksi, bukan pada kualitas produksi."Keamanan pangan di Indonesia harus benar-benar diperhatikan dengan baik, sebab era saat ini sangat marak makanan yang membahayakan bagi kesehatan," katanya.Permasalahan lain adalah mutu beras dan distribusi pangan yang tidak seimbang. Biasanya pada wilayah terpencil memiliki ketahanan atau kualitas pangan yang rentan.Setidaknya terdapat 26 kabupaten di Indonesia yang memiliki ketahanan atau kualitas pangan yang rendah."Pewarna kimia yang beredar di pasaran juga begitu berbahaya bagi kesehatan, hal ini akan memberikan dampak atau efek jangka panjang yang cukup berbahaya," ujar Prof Bambang.Selain itu, para mahasiswa atau pekerja yang bertempat tinggal di kos berpotensi tinggi terkena efek dari bahan kimia yang dikonsumsi.Untuk itu, dalam mengonsumsi makanan harus tetap menekankan pada segi kualitas dan tetap hati-hati agar terhindar dari segala hal yang tidak diinginkan dan membahayakan kesehatanSementara itu, Guru Besar Fakultas Kedokteran Hewan Unair Prof Suwarno menyoroti kondisi peternakan yang ada di Indonesia yang masih bersifat perorangan atau tradisional.Padahal, ternak dengan cara seperti ini kerap tidak memenuhi kebutuhan daging yang terus meningkat."Kasus penyakit reproduksi hewan ternak juga masih tinggi karena sebagian besar hewan tersebut kekurangan gizi pakan, adanya kasus penyakit menular/zoonosis cukup tinggi karena adanya penanganan yang kurang serius," ucapnya.Hingga saat ini, lanjutnya, konsumsi pangan masyarakat Indonesia sebagian besar diambil dari ranah hewani, seperti unggas, kambing, dan sapi."Impor pangan hewani cukup tinggi. Namun, Jawa Timur memiliki potensi ternak yang paling tinggi di Indonesia," katanya.Pengimporan hewan menurutnya masih diperlukan ketelitian yang tinggi bagi pemerintah maupun swasta. Namun, hal tersebut sudah mampu diatasi oleh para ahli di Indonesia dalam mengklasifikasi hewan yang akan diimpor."Sebab, ada beberapa negara yang perlu kita waspadai kareternak mereka terindikasi terkena virus jadi harus ada penggeseran pola peternakan perorangan ke arah kelompok/industri, pengembangan pola integrasi ternak tanaman (sapi-sawit), pengembangan lahan pengembalaan, fasilitas asuransi usaha ternak sapi (AUTS)," ujarnya.

Editor: Didik Kusbiantoro

COPYRIGHT © 2019 ANTARA News Jawa Timur

Hits 169

Terpopuler