Prof. Fedik: Stem Cell adalah Senjata Pemungkas Bagi Banyak Penyakit

  • By Super User
  • In Sains
  • Posted 14 September 2018

Prof. Dr. Fedik A. Rantam, DVM, merupakan pakar UNAIR yang membidangi Ilmu Virologi dan Imunologi. Fedik juga menggeluti penelitian tentang demam berdarah. Fedik mengembangkan Vaksin Dengue di Indonesia. Bahkan, Fedik juga menjadi anggota consortium vaksin demam berdarah.

Selain vaksin demam berdarah, Fedik giat dalam meneliti Stem Cell. Kehadirannya setelah obat tradisional dan obat anti biotik, dianggap sebagai obat regeneratif termutakhir. Sehingga, prospek Stem Cell ke depan sangatlah luas. Mengingat, banyaknya permintaan pasar.

Secara sederhana, Stem Cell merupakan sel calon berbagai macam organ. Sering kali disebut sebagai sel yang belum berdiferensiasi. Stem Cell bisa berubah menjadi beragam sel, mulai dari sel jantung, sel hati, hingga sel saraf. Sehingga, Stem Cell dapat menjadi senjata pemungkas bagi semua penyakit, terutama penyakit degeneratif layaknya parkinson.

Saat ini, Kepala Stem Cell Research And Development Center tersebut terus mengembangkan beragam karakter Stem Cell. Yang terbaru, Fedik mengembangkan Hair Follicle Stem Cell, yaitu memasukkan sel pori-pori dengan mengecilkan grows factor dari sel tersebut menjadi tingkat nano. Sehingga, rambut yang sudah mulai menghilang bisa tumbuh kembali.

Selain itu, saat ini juga ada pengembangan Stem Cell yang ditambahi dengan genetik, sehingga mampu membawa gen ke dalam tubuh. Bahkan, Stem Cell juga mulai dikembangkan untuk membawa obat-obatan, mengingat karakter Stem Cell langsung “bergerak” menuju ke organ yang injury.

“Prospek Stem Cell di Indonesia sangat baik. Kita masih sepakat ingin jadi yang terbaik. Di Indonesia memang baru mengenal Stem Cell. Jadi, prospeknya luas sekali. Di sisi lain, saya ingin menunjukkan masyarakat pada luar negeri, bahwa kita punya teknologi sendiri yang bisa dikembangkan” ujarnya.

Terkait Vaksin Dengue, Wakil Dekan I Fakultas Kedokteran Hewan tersebut juga mengembangkan Vaksin Dengue untuk demam berdarah. Sepulang dari Jerman pada tahun 1998, peraih gelar Doktor dari Freie Universitaet, Jerman tersebut mulai menggeluti riset demam berdarah beserta dengan imunologinya. Sehingga desain pengembangan vaksin demam berdarah tidak hanya model biasa, melainkan Vaksin Chimera.

Di sela kesibukannya dalam penelitian, Fedik juga aktif dalam memublikasi karya ilmiah, baik nasional hingga skala internasional. Di antaranya, “Hybrid Fab Immunoglobuline (IgG) as development of vaccine and diagnostic hit” pada 2015, dan “Analysis of recombinant envelope (E) protein multivalent dengue virus serotype -1,-3,-4 expressed by baculovirus System” pada 2013. (*)

Hits 145